Thursday, November 23, 2017

MENGAPA SENDU?
***
Mengapa begitu sendu?
ada air di mata Saudara
mendekatlah ke kami malam ini
ceritalah terus-terang
Jangan malu untuk menangis
Tangan-tangan ini siap menyeka
Biarkan kami menghibur
Menerbitkan sepasang lesung pipi Saudara lagi
Kami di sisi Saudara
melebihkan senyum
melebarkan bahu
membawa lentera
kerikil yang terinjak tiada lagi akan menusuk
Media berkabar
negeri Saudara terluka kini
berlari tiada jelas arah, tiada beralas kaki
lika liku, luka-luka
kami terkabari
Di sini, untuk itu, merapal doa kami
akan kesembuhan negeri Saudara
tiada lagi darah menetes
tiada lagi pasukan berseragam menakuti di sudut-sudut rumah
anak-anak pagi berjalan penuh uluman senyum menuju gedung sekolah
ayah-ayah membetulkan perkakas menuju ladang jihad
ibu-ibu mengepul asap bersama freedom Maher Zain
Saudara, kami di sini
di sisi Saudara
menguatkan
Ingatlah
semboyan kita
negeri boleh saja berduka, iman pantang terluka
*Palu, saat mengingat Palestina
GEGARA TIANG LISTRIK
***
Gegara tiang listrik, linimasa media sosial merumput. Di dalamnya ikut bersuara kids jaman now, orang dewasa, hingga yang renta.
Respons ekspresinya pun berwarna. Ada yang mengerutkan kening, ada yang mengangakan mulut, ada yang memegangi perut menahan gelak, ada yang memiringkan bibir, ada yang memain-mainkan logika, ada yang ber-"jangan-jangan", ada yang berpura-pura menginfus diri, ada yang diam-diam menggonggong, ada yang mendendangkan lagu, juga ada-ada lainnya.
Yah, beginilah Indonesia, senang mendengar berita hangat mengejutkan, apalagi ada segmen dramanya. Viralnya parah, kayak kanker stadium 4. Harap maklum Saudara-saudara.
Orang besar kalau tertabrak tiang listrik, pastilah empuk dibicarakan. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau barangkali, tak lekang oleh waktu. Kayak lagunya Kerispatih.
Mudah-mudahan orang besarnya cepat siuman, tiada geger otak, supaya bisa diajak ke bui, berseragam oranye. Huhu.
*Palu, saat tertulari kongko tiang listrik